NASIB-MU ADA DITANGAN-MU

Kematian bukan ditentukan sebelumnya, tapi ditentukan oleh prilaku atau tindakan (karma) yang kita lakukan. Buah dari karma yang kita nikmati akan tersimpan atau tertanam dalam memori berupa kesan/karmawasana. Kemudian akan terwujud menjadi tindakan lagi atau kejadian termasuk kematian. Kita baru menyadari setelah ada kejadian. Jadi yang menentukan kematian adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, hal ini tidak pernah kita sadari. Kematian / nasib ada ditangan kita sendiri!

Dalam ITIHASA, Krishna berkata dengan kalimat yang sama kepada ; Bhisma, Drona dan Karna :

“Kalau kamu tdk mau meletakkan senjata atau berpihak pada Pandawa, terima kematianmu “
Itu bukanlah kutukan, itu adalah suara alam / hukum alam karena akibat dari Karma yang telah kita lakukan. (Krishna adalah manifestasi dari KEILAHIAN). Mereka bertiga adalah orang2 yang memiliki kemampuan, tapi tidak melaksanakan kewajiban, demi menjaga berlangsungnya kehidupan ini. Melakukan kewajiban demi kepentingan orang banyak!

Bhisma demi menjaga sumpahnya membiarkan kehidupan menjadi mandeg, bagaikan benteng berdiri ditengah jalan tidak ada yang mampu menggeser, hanya menjaga kepentingan Astina Pura. Membiarkan Dewi Amba menderita, atas saran gurunya Bhisma diminta menikahinya, Bhisma menolak malah menantang gurunya diajak duel. Membiarkan permainan dadu larut tidak menentu, membiarkan Drupadi ditelanjangi, membiarkan Indraprasta dikuasai oleh Kurawa. Hidupnya berada dibawah bayang2 sang ayah, menganggap sang ayah masih duduk diatas singasana Astina pura. Bhisma seperti lupa bahwa yang menjadi raja sekarang adalah cucunya yang sombong!
Bhisma gugur karena sakit hati Dewi Amba!
Kepekaan Bhisma menjadi berkurang karena kaku menjaga sumpah.

Drona hidup hanya demi sang anak, supaya menjadi raja. Meminta imbalan kepada murid2nya melebihi batas kewajaran. Mengajak murid2nya melakukan balas dendam menyerang Pancala sebagai bayaran (daksina), kemudian mengambil sebagian wilayah Pancala dengan mendudukkan sang anak sebagai raja. Begitu juga meminta bayaran kepada Eka lawya, dengan memotong ibu jari tangan kanan sehingga kemampuan memanah Eka Lawya berada dibawah Arjuna.
Kepekaan Drona menjadi berkurang karena dipikirannya hanya ada kepentingan anaknya saja. Sehingga dengan mudahnya Drona dibohongi oleh Yudistira, mengatakan anaknya telah mati di medan perang kemudian kepalanya dipenggal oleh Drestajumena. Kematian Drona karena doa prabu Drupada, raja Pancala!

Karna karena dendam pada Arjuna banyak kesalahan dia lakukan tanpa disadari, kepekaannya menjadi berkurang karena menyimpan dendam.
Berbohong kepada Guru supaya diangkat menjadi murid.
Menabrak sapi dengan kereta secara tidak sengaja, kemudian dikutuk oleh pemiliknya, bahwa kelak akan mati dibawah roda kereta perangnya, ketika menghadapi musuh utamanya.
Motifasi Karna belajar, hanya untuk bersaing dengan orang lain, ingin menundukan orang lain. Karna tahu persis dimana kelemahan Arjuna. Belajar hanya untuk mengalahkan orang lain.

Begitulah mereka bertiga sebagai kesatrya utama dan sekaligus Bhagawan, karena mereka murid2 dari Bhagawan Parasu Rama. Menemui kematiannya dengan tragis!
Hanya Karna tidak memakai gelar Bhagawan, belum sempat diwisuda karena diusir oleh gurunya.

Salya, 26 Juli 2021